CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS

Jumat, Maret 20, 2009

PERIKEHIDUPAN : SEKILAS TENTANG BRYOPSIS


“ SEKILAS TENTANG BRYOPSIS ”

Created by Bayu Nur Fajrullah






KATA PENGANTAR

Segala puji syukur saya panjatkan kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, yang telah menyampaikan kepada kita segala nikmat iman dan islam, sehingga kita dapat hidup lebih baik dari hari-hari sebelumnya dan sebagai penerang kehidupan dikala manusia tersesat jauh dari jalanNya yang lurus. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk kepada kita semua agar kita menjadi manusia yang beriman.

Buku ini ditulis dangan menekankan kepada pendekatan komunikasi dan keterampilan proses penalaran. Karena didalam buku ini tidak hanya disajikan uraian teorinya saja tetapi juga disertai penyajian gambar-gambar yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dilapangan.

Mudah-mudahan dengan kehadiran buku ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan mengenai Sistematika Tumbuhan Rendah serta membantu mempermudah pembelajaran mata kuliah Botani Cryptogamae. Dengan segala kerendahan hati penulis menginginkan agar kajian dalam buku ini sesuai dengan harapan kita semua.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan masukan-masukan, semangat serta dukungannya selama proses penyusunan buku ini. Dan hanya kepada Allah sebesar-besarnya syukur yang dapat terucap. Tanpa kehendakNya segala sesuatu tak akan pernah terwujud.

Bandung, Desember 2006
Penulis,


Bayu Nur Fajrullah



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . . . . i
DAFTAR ISI . . . . . . . iii
BAB 1 PENDAHULUAN . . . . . . . 1
BAB II ALGA (GANGGANG) . . . . . . . 5
1. KLASIFIKASI . . . . . . . 6
BAB III CHLOROPHYTA
1. CIRI UMUM . . . . . . . 9
2. PERKEMBANGBIAKAN . . . . . . . 10
3. HABITAT . . . . . . . 11
BAB IV BRYOPSIS CORTICULANS
1. MORFOLOGI . . . . . . . 12
1.1. Struktur dan komposisi . . . . . . . 12
2. EKOLOGI . . . . . . . 15
2.1. Distribusi . . . . . . . 15
2.2. Interaksi antar organisme . . . . . . . 16
3. PERKEMBANGAN HIDUP . . . . . . . 17
3.1. Reproduksi seksual . . . . . . . 18
BAB V BRYOPSIS HYPNOIDES
1. CIRI UMUM . . . . . . . 22
1.1. Struktur utama . . . . . . . 23
2. HABITAT . . . . . . . 23
3. DISTRIBUSI . . . . . . . 24
4. EKOLOGI . . . . . . . 24
BAB VI BRYOPSIS PENNATA
1. CIRI UMUM . . . . . . . 26
1.1. Struktur utama . . . . . . . 28
2. HABITAT . . . . . . . 28
3. DISTRIBUSI . . . . . . . 28
4. EKOLOGI . . . . . . . 29
BAB VII BRYOPSIS PLUMOSA
1. CIRI UMUM . . . . . . . 31
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . 33


BAB I PENDAHULUAN

Bryopsis (bryopsis berarti "Seperti Lumut") merupakan jenis alga hijau yang dapat ditemukan di samudera pasifik. Saat berada didalam air bryopsis terlihat seperti bulu merak yang indah.
Byropsis adalah alga hijau berongga yang unik karena ia bersel satu (unicellular) tetapi memiliki beberapa inti (multinucleus). Biasanya, sebagian besar organisme bersel satu berukuran sangat kecil sekali mengacu kepada batasan fisiknya saat ia menyerap makanan atau pertukaran gas. Meskipun tidak memiliki dinding sel dalam thallusnya. Bryopsis dapat mengembangkan kemampuan khusus untuk mengatasi keterbatasan ukurannya sebagai organisme bersel satu.

Sampai saat ini masih menjadi perdebatan tentang ada dimana sebenarnya hirarki klasifikasi Alga. Banyak yang berargumentasi bahwa Alga harusnya berada dalam satu kingdom dengan Tumbuhan. Sekarang banyak orang yang menyangkal dan tidak mengklasifikasikannya kedalam kesemua kingdom namun memasukan alga antara tumbuhan dan hewan, yaitu untuk semua organisme yang mempunyai nukleus yang dipisahkan dari sitoplasma oleh membran (eukaryotic).

Kingdom : Protista
Divisio : Chlorophyta
Classis : Chlorophyceae
Ordo : Bryopsidales
Famili : Bryopsidaceae
Genus : Bryopsis
Species : corticulans, hypnoides, pennata, plumose

Kingdom : Protista
Kingdom ini biasanya termasuk organisme bersel satu dan tidak berfotosintesis (yang akan menjadi kontroversi apakah alga harus masuk kedalam kingdom ini). Kingdom Protista juga termasuk didalamnya bermacam macam organisme yang tidak benar-benar cocok dengan kingdom-kingdom lainnya (yaitu tanaman atau hewan atau bakteri).

Divisio : Chlorophyta
Terdapat lebih dari 5000 jenis spesies Alga hijau, tetapi sebagian besar adalah spesies air tawar. Alga hijau sebagian besar bersel satu dengan stuktur filamen yang sederhana, walaupun banyak spesies kompleks di daerah tropis. Karakter warna hijau (dalam beberapa tingkatan) dari divisi ini disebabkan oleh klorofil a dan b yang menjadi pigmen utama mereka dalam berfotosintesis, walaupun beberapa alga mempunyai pigmen aksesoris lainnya seperti karotin dan xanthophylls. Alga hijau bisa bereproduksi baik secara aseksual maupun secara seksual dan sejarah hidup mereka secara umum cenderung lebih sederhana dari pada divisi Rhodophyta.

Famili : Bryopidaceae
Spesies dalam famili ini mempunyai system uniaksial dengan percabangan tubular dan coenocytic ( bersel satu, multinukleus).

Genus : Bryopsis
Bryopsis ditemukan relatif melindungi perairan, temperatur hidup yang cocok untuk jenis alga ini di laut tropis. Kebanyakan spesiesnya berukuran kurang dari 10 cm. Reproduksi secara seksualnya dengan anisogami yang dihasilkan oleh gamet.

BAB II ALGA (GANGGANG)

Alga merupakan tumbuhan thallophyta yang tumbuh di perairan dan di darat khususnya di tempat-tempat lembab, seperti : kolam, danau, sungai, laut dan di tempat-tempat lembab ( batu, tembok, batang kayu, dsb). Ada juga yang hidup bersimbiosa dengan jamur, paku atau tumbuhan tinggi. Sifat hidup alga yaitu autotrof. Bentuk tubuhnya sel satu, berkoloni hingga bersel banyak.

Alga mempunyai banyak manfaat : bidang perikanan, pertanian, industri, makanan/minuman, industri farmasi, mikrobiologi, kosmetik, dan lingkungan (masalah pencemaran).

Dimasa datang : merupakan sumber-sumber bahan yang bermanfaat, contoh :
 Chlorella – alga merah banyak mengandung karbohidtrat, lemak dan protein
 Alga coklat – obat kanker dan sebagainya
 Kelompok Cyanophyta – kesuburan tanah dan pertanian untuk menfiksasi N dari udara.
 Kelompok Alga diperairan – plankton (populasi mikroorganisme yang hidup bebas diperairan, pergerakannya tergantung adanya arus dan pergerakan air), penting untuk sumber makanan bagi ikan serta sebagai parameter perairan untuk menentukan kualitas perairan (zoo dan fitoplankton).

Pengklasifikasian alga berdasarkan kepada sifat fisiologi dari sel vegetatif dan morfologi dari sel-sel reproduksi. Salah satu sifat penting dari sel vegetatif ialah kandungan pigmen dari plastida yang menyebabkan warna alga berbeda-beda satu sama lain, hal ini tergantung dari banyaknya kandungan zat warna tersebut. Demikian pula dengan persediaan makanan yang terdapat dalam sel berbeda-beda dari tiap divisionya.

1. KLASIFIKASI

Berdasarkan pada pigmen spesifik yang terdapat dalam butir plastida, maka alga dapat dibagi dalam beberapa divisio:
1. Chyanophyta
2. Cholorophyta
3. Chrysophyta
4. Phaeophyta
5. Rhodophyta

Smith (1955) membagi Devisio Chlorophyta kedalam dua kelas: (I) Chlorophyceae dan (II) Charophyceae. Pada kelas Chlorophyceae ia membagi menjadi sepuluh ordo dan kelas charophyceae hanya satu ordo. Sedangkan Fritsch (1945) membagi kelas Chlorophyceae kedalam sembilan bangsa (ordo).

Smith (1955)
Divisio : Chlorophyta
I. Kelas : Chlorophyceae
1. Volvocales
2. Tetrasporales
3. Ulotrichales
4. Oedogoniales
5. Ulvales
6. Schizogoniales
7. Chlorococcales
8. Siphonales
9. Siphonocladales
10. Zignematales
II. Kelas : Charophyceae
1. Charales

Fritsch (1945)
I. Kelas : Chlorophyceae
1. Volvocales
2. Chlorococcales
3. Ulotrichales
4. Cladophorales
5. Chaetophorales
6. Oedogoniales
7. Conjugales
8. Siphonales
9.Charales

BAB III CHLOROPHYTA

1. CIRI UMUM

• Berwarna hijau, karena mengandung kloroplas (Plastida berpigmen hijau) dengan butir-butir pirenoid ditengahnya. Bentuk kloroplas ini pada beberapa genusnya berlainan, seperti bentuk spiral (Spirogyra), bentuk jala (Hydrodiction), bentuk bintang (Zygnema), bentuk ladam (Ulothrix), dan butiran atau himpunan kloropil yang tak teratur.

• Butir-butir pirenoid berfungsi dalam fotosintesis untuk menghasilkan amilum (Pati). Dalam pengamatan mikroskop, pirenoid tampak sebagai butiran yang memantulkan cahaya dan berada ditengah-tengah kloroplas.

• Sel-sel alga hijau sudah bersifat eukarion atau memiliki dinding nucleus. Tubuhnya ada yang bersel satu (Chlorella), berkoloni (Volvox), bersel banyak membentuk benang (Spirogyra), berbentuk lembaran (Ulva) dan ada yang serupa rumput (Chara).

2. PERKEMBANGBIAKAN

• Golongan alga hijau bersel satu (Pleurococcus/Chlorococcus) berkembangbiak secara vegetatif dengan membelah diri, sedangkan pada Chlorella dengan membentuk spora yang kemudian tumbuh menjadi sel alga baru.
Beberapa alga hijau bersel satu yang dapat bergerak bebas dapat melakukan perkawinan dengan konjugasi membentuk zygospora, sedangkan perkembangan vegetatifnya dengan membentuk zoospore, misalnya pada Chlamydomonas.

• Golongan alga bersel banyak bentuk benang dan belum memiliki alat perkawinan, perkembangan vegetatif dengan fragmentasi tallusnya. Perkembangbiakan generatifnya konjugasi atau plasmogami (kawin plasma sel).

• Golongan Chlorophyceae bersel banyak yang sudah memiliki alat kelamin jantan (anteridium) dan alat kelamin betina (oogonium), perkembangbiakan generatif dengan oogami (pembuahan sel telur oleh spermatozoid) terdapat pada alga Oedogonium. Bila anteridium dan oogonium terdapat dalam satu tallus maka disebut homothallus. Bila sebaliknya yaitu anteridium dan oogonium terpisah pada thallus yang berbeda, dinamakan heterothallus.

• Golongan alga hijau tingkat tinggi, dalam satu thallus dihasilkan anteridium (globul) dan oogonium (nukul), sehingga perkembangbiakan generatifnya adalah oogami. Perkembangbiakan vegetatifnya dengan fragmentasi thallus.

3. HABITAT

• Chlorophyceae banyak hidup diperairan tawar, laut dan tempat-tempat lembab. Bahkan banyak yang membentuk simbiosis dengan lain(lichenes). Yang hidup diperairan sebagai fitoplankton, penting artinya dalam perikanan.

BAB IV BRYOPSIS CORTICULANS


1. MORFOLOGI


1.1. Struktur dan Komposisi

Bryopsis cortisulans adalah suatu alga yang berbentuk bulu yang indah. Seperti siphonous alga hijau ( ordonya Caulerpales, Cladophorales, Dasycladales), tapi yang tidak dimilikinya seperti bryopsis corticulans yaitu dinding sel yang melintang dan (berdasarkan pembagian sitoplasma) organel dan inti sel di dalam thallusnya. Bryopsis bersifat uniselluler tetapi memiliki banyak inti sel (coenocytic)

Bryopsis corticulans memiliki warna hijau kehitaman dengan thallus bagian atasnya memiliki struktur sangat sederhana (telanjang) dan percabangan atasnya menyirip. Thallus Bryopsis ini memiliki vakuola yang melalui garis melintang di pusat thallus. Vakuola adalah membran yang dibatasi dan didukung oleh cytoskeleton dari aktin dan filamen mikrotubulus. Dengan begitu kloroplas dan organelnya dipaksa untuk bergerak di daerah sempit antara membran dan vakuola. Kita dapat melihat kloroplas dengan jelas di gambar dengan pembesaran 200X (kloroplas telah didorong keluar ke bagian yang sempit antara vakuola dan membran).


Bryopsis merupakan alga hijau, karena ia mempunyai butir hijau daun (klorofil a dan b) yang memberinya warna khas hijau. Seperti halnya beberapa pigmen yang mencakup karoten dan xantin. Selain warna hijau yang terdapat di dalamnya. Kloroplas memiliki phyrenoid. Meskipun fungsi dari phyrenoid belum jelas. Bryopsis memilki membrane eksternal yang sangat tipis yang tersusun dari pektin dan selulosa.

Morfologi khusus Bryopsis corticulans : “ Dapat menyembuhkan lukanya sendiri ”
Dikarenakan Bryopsis uniselluler, jika terjadi kerusakan pada bagian tubuhnya maka bisa berakibat sangat fatal bagi keseluruhan selnya, contoh pada saat sel terpotong maka semua sitoplasmanya keluar dari sel tersebut. Suatu sel multiselluler bisa menempatkan luka itu pada satu atau beberapa sel, tetapi Bryopsis tidak memiliki pilihan seperti halnya organisme multiselluler. Beruntungnya, Bryopsis seperti anggota lain dalam familinya dapat menyusun dirinya ketika selnya rusak (robek, terpotong). Ketika membrannya robek maka factor (protein khusus, organel, dan kloroplas) pada bagian luka tersebut akan terkumpul lalu menutup diatasnya. Dalam 15-20 menit disekitar bagian luka itu terbentuk selaput penutup yang tersusundari polisakarida dan lipid. Lalu membran sel dan dinding sel yang selanjutnya terbentuk disekitar kumpulan itu. Proses ini terlihat seperti pada pembekuan darah pada manusia ketika terpotong.

2. EKOLOGI


2.1. Distribusi

Bryopsis corticulans pertama kali diidentifikasi di Monterey CA tahun 1898 oleh William Setchell. Alga ini ditemukan di sepanjang pantai barat Amerika Utara di pulau Vancouver, Columbia Britania, dan dari Canada sampai Baja California. Meskipun demikian pada umumnya ditemukan di sekitar Monterey. Spesies Bryopsis lainnya Bryopsis (Hypnoides) adalah juga ditemukan sepanjang pantai barat Amerika, berkisar antara Canada sampai Panama.

2.2. Interaksi antar Organisme

Bryopsis corticulans tumbuh antara 1,5 - 2 kaki dan memiliki pertahanan kimia didalam tubuhnya sehingga melindungi tubuhnya dari berbagai ikan pemangsa.



Bryopsis corticulans bisa menjadi rumah bagi plankton yang sangat kecil seperti diatom, walaupun biasanya diatom ditemukan juga pada sebagian besar alga. Tidak hanya menjadi rumah untuk beberapa organisme, tapi juga hidup secara epifit pada alga coklat (Egregia). Epifit tidak mengambil keuntungan dari metabolisme inangnya. Bryopsis hanya menggunakan inangnya sebagai tempat untuk hidupnya, yang ditemukan hidup secara epifit hanya spesies dari bryopsis tropis pada alga coklat tropis. Belum diketahui pada spesies yang bukan tropis lainnya.



3. PERKEMBANGAN HIDUP


Bryopsis diketahui bisa melakukan reproduksi secara seksual maupun aseksual, dalam berbagai referensi hal ini telah dibicarakan bahwa reproduksinya hanya secara seksual tanpa bentuk hidup spora (tidak ada sporofit diploid). Meskipun demikian dari beberapa literature disebutkan bahwa secara garis besar seluruh masa hidup seksual Bryopsis nampak ditemukan bentuk hidup spora pada spesies bryopsis tropis, lihat gambar diatas).

3.1. Reproduksi Seksual

Reproduksi seksual adalah diplohaplontic yaitu organisme peralihan antara generasi gametofit yang haploid and generasi sporofit yang diploid.

Pada Byopsis, gametofit lebih besar ukurannya daripada sporofit dan hanya memiliki satu set kromosom yang haploid (I N). saat bereproduksi, kloroplas akan berkumpul pada pangkal caangnya karena itu pangkal percabangannya akan mulai membengkak, bentuk sumbat ini sangat efektif untuk menguraikan sitoplasma dicabang dalam thallus utana. Hal ini akan efektif untuk menutup transportasi dari kloroplas, nukleus dan organel tertentu dan memisahkan percabangannya. Lalu cabang khusus ini menjadi gametangia, tempat menghasilkan gamet (proses gametogenesis). Setiap gametangium akan menghasilkan salah satu gamet haploid (jantan atau betina). Gametangia jantan dan betina dihasilkan oleh induk yang sama (monoecius).




Bryopsis melakukan anisogami, artinya diproduksi gamet motil yang ukurannya tidak sama (gamet betina tiga kali lebih besar dibandingkan gamet jantan). Kedua gamet berbentuk seperti buah pir dan mempunyai dua flagella yang sama panjang. Gamet jantan mempunyai ukuran mitokondria yang sangat besar, yang mengisi sebagian besar volume sitoplasma, sedangkan gamet betina mempunyai ukuran mitokondria yang kecil dan sebuah kloplas yang besar dengan bintik mata didalamnya.

Untuk pembuahan diluar tubuh, gamet dikeluarkan kedalam air laut, karena bryopsis merupakan alga monoecious (kedua gametangia jantan dan betina dihasilkan oleh induk yang sama). Gamet jantan dan gamet betina dilepaskan pada waktu yang bersamaan dan sering pula terjadi pembuahan gametdari induk yang sama dihasilkan tumbuhan homothallus. Pembuahan gamet akan menghasilkan dua set kromosom zigot yang diploid (2 N) yang akan berkembang menjadi gametofit (makrothallus, 1N) yang kemudian terjadi pembelahan meiosis dan mitosis atau sporofit (mikrothallus, 2N).

Sporofitnya tidak terlihat seperti gametofit, tapi lebih seperti benang filament pada sel. Setelah itu terjadi pembelahan mitosis dan selanjutnya pembelahan meiosis, sporofit menghasilkan dan melepaskan banyak zoospora (spora yang memiliki flagella) yamg haploid dan akan berkembang menjadi gametofit baru (kira-kira sekitar 50% jantan dan 50% betina). Lalu siklus inipun akan dimulai lagi dari tahap awal.


BAB V BRYOPSIS HYPNOIDES



1. CIRI UMUM

Bryopsis hypnoides memiliki bentuk seperti pohon pakis yang halus. Kelompok bryopsis ini sangat dominan dalam populasinya. Species ini lebih kompetitif di area yang memilki masukan nutrisi yang banyak.

Bryopsis jenis ini memiliki system pertahanan.seperti pada caulepa taxifolia, genusnya menghasilkan pertahanan kimia yang berupa racun sehingga tidak dimakan oleh hewan herbivora. Oleh karena itu jika terjadi kondisi lingkungan yang demikian dapat mendukung cepatnya pertumbuhan spesies ini, sehingga kemungkinan hal ini yang menjadikannya lebih kompetitif dan dominan.

1.1. Struktur Utama

Diameter utama thallusnya sekitar 65-140 µm, dan percabangannya berdiameter 40-80 µm. fungsi vegetatifnya sebagai gametangia, species ini berumah dua (dioecious), dengan individu jantan berubah warna thallusnya menjadi hijau kekuningan dan individu betina warnanya menjadi hijau tua.

2. HABITAT

Umumnya berada di dekat air tawar dan wilayah laut yang kaya akan nutrisi. Hidupnya melekat pada substrat yang keras seperti di bebatuan, batu basal, batu karang dan lain-lain.

3. DISTRIBUSI

Pulau Hawai'i distribusinya meliputi : Barat laut pulau hawai'i, O'Ahu, Maui, Kaua'i, Lana'i, Moloka'i Dan pulau hawai'i.
Diseluruh dunia distribusinya meliputi : Australia, Samudra Atlantik,laut Mediterania,laut Caribbean, laut hindia dan samudra Pasifik.

4. EKOLOGI

Bryopsis hypnoides pada umumnya hanya merupakan bagian kecil dari biomassa yang berbeda, dan dominan pada komunitas batu karang. Berkas filament dari alga ini biasanya ditemukan melekat pada bebatuan, dan pertumbuhan macroalga berjalan secara lambat. Seperti kebanyakan alga hijau. bryopsis jenis ini memiliki kesempatan hidup yang tinggi dalam keadaan eutrofik (daerah danau). Bryopsis Umumnya ditemukan di sekitar air tawar yang kaya akan nutrisi atau air yang memiliki temperatur fluktuatif (berubah-ubah) sehingga pertumbuhan alga hijau ini menjadi cepat dan akan memiliki biomassa yang tinggi.


Berkas Filament bryopsis tingginya hampir mencapai 10 cm dan pola percabanganya menyebar dan tidak teratur. Mempunyai percabangan primer yang banyak. Diameter thallusnya mengecil berdasarkan urutan divisinya.dan pada dasar thallusnya mengerut. System perakarannya berbentuk serabut,berpilin sangat rapat dan thallusnya berwarana hijau tua atau hijau gelap.

BAB VI BRYOPSIS PENNATA




1. CIRI UMUM

Bryopsis pennata adalah alga yang struktur tubuhnya seperti bulu kecil yang sering ditemukan dikumpulan batu karang. Alga ini memiliki system pertahanan hidup, dengan kondisi lingkungan yang mendukung, pertumbuhan alga ini menjadi lebih cepat dan dominan sehingga lebih berpotensial untuk hidup.


Kelompok Bryopsis pennata yang serupa bulu dikelilingi oleh alga merah dan alga hijau lain.

Thallusnya berfilamen, didalam berkasnya terlihat seperti benang kusut, tingginya mencapai 10 cm. thallusnya seperti bulu, lebar sekitar 8-15 mm. Percabangannya menyirip, percabangan lateral alga ini memiliki panjang yang sama, mengerut pada dasar thallus bergabung sampai cabang utama. Percabangan dalam dua jalur yang berlawanan disetengah atas cabangnya (dikotom), diseparuh cabang bawah bentuknya sangat sederhana (telanjang),sistem rhizoid berserabut, seperti anyaman yang rapat. Berwarna hiau tua mengkilap, terlihat seperti warna biru muda.

1.1. Struktur Utama

Diameter utama thallusnya antara 240-360 µm, diameter percabangan lateral 75-150 µm. fungsi vegetatifnya sebagai gametangia, species ini berumah dua (dioecious), dengan individu jantan berubah warna thallusnya menjadi hijau kekuningan dan individu betina warnanya menjadi hijau tua.

2. HABITAT

Bryopsis pennata membentuk rumpun dan melekat pada batu basal, reruntuhan dibawah batu karang. Habitatnya dibawah garis pantai yang memiliki arus air gelombang yang rendah.

3. DISTRIBUSI

Pulau Hawai’i distribusinya meliputi : Barat laut pulau hawai'i, O'Ahu, Maui, Kaua'i, Lana'i, Moloka'i Dan pulau hawai'i.
Di seluruh dunia distribusinya meliputi : Australia, Samudra Atlantik,laut Mediterania,laut Caribbean, laut hindia dan samudra Pasifik.

5. EKOLOGI

Bryopsis pennata pada umumnya hanya merupakan bagian kecil dari biomassa yang berbeda, dan dominan pada komunitas batu karang. Berkas filament dari alga ini biasanya ditemukan melekat pada bebatuan, dan pertumbuhan macroalga berjalan secara lambat. Seperti kebanyakan alga hijau. bryopsis jenis ini memiliki kesempatan hidup yang tinggi dalam keadaan eutrofik (daerah danau). Bryopsis Umumnya ditemukan di sekitar air tawar yang kaya akan nutrisi atau air yang memiliki temperatur fluktuatif (berubah-ubah) sehingga pertumbuhan alga hijau ini menjadi cepat dan akan memiliki biomassa yang tinggi.
Bryopsis jenis ini memiliki system pertahanan. Seperti pada caulepa taxifolia, genusnya menghasilkan pertahanan kimia yang berupa racun sehingga tidak dimakan oleh hewan herbivora dan sangat mudah untuk bereproduksi secara vegetatif dari fragmen terkecilnya. Oleh karena itu jika terjadi kondisi lingkungan yang demikian dapat mendukung cepatnya pertumbuhan spesies ini, kemungkinan hal-hal tersebut yang menjadikannya lebih kompetitif dan dominan.
Bryopsis pennata terkenal sebagai suatu jenis ganggang hama di akuarium. Sering disebut sebagai pakis laut. Alga berbentuk bulu halus ini pada umumnya diperkenalkan ke aquarium sebagai alga yang hidup dibatu karang. Nutrisi yang kaya dalam aquarium menyediakan tempat yang sempurna dan merupakan faktor sangat mendukung cepatnya pertumbuhan dari Bryopsis pennata ini,oleh karena itu pengendalian terhadap habitatnya merupakan suatu tantangan tetap. Pertumbuhan yang tidak terkendali ini terjadi akibat nutrisi yang kaya di dalam aquarium dan tidak terdapatnya predator. Berdasarkan hal tersebut maka kondisi di dalam aquarium diharapkan serupa dengan habitatnya dibatu karang.

BAB VII BRYOPSIS PLUMOSA




1. CIRI UMUM

Pluma berasal dari bahasa latin yang artinya bulu. Spesies ini, Bryopsis plumosa, tampak seperti bulu-bulu hijau yang lembut. Ganggang/alga ini adalah coenocytic. Thallus Filamen dari bryopsis plumosa ini bukan tersusun dari septate, artinya tidak terdapat garis melintang pada dinding sel.



DAFTAR PUSTAKA

Adi Yudianto, Suroso.1992. Pengantar Cryptogamae. Bandung: Tarsito.

Smith GM. 1944. Marine Algae of the Monterey Peninsula California. Stanford, CA. Stanford University Press.

Gupta, J.S. 1981. Textbook of algae. New Delhi, Bombay, Calcutta. Oxford & IBH Publishing Co.

Web Pages

Virtual Herbarium. http://www.botany.hawaii.edu/reefalgae/greenskey.htm
http://images.google.co.id/images



Moga Bermanfaat buat Smua khususnya Adik kelasqu yang sedang mengontrak Botani Cryptogamae... Sebagai Contoh Peri Kehidupan aja! Yang bae-bae boleh di ambil n yang jeleknya ga usah di contoh! Key.... SEMANGAT!

Minggu, Maret 15, 2009

PERUBAHAN IKLIM GLOBAL: Penyebab dan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan ???





PENDAHULUAN


Udara di sekeliling kita semakin panas, bukankah hal itu sudah biasa terjadi di daerah tropis? Mengapa orang sedunia heboh? Bahkan bekas presiden USA Al Gore bersama-sama dengan organisasi IPCC memperoleh Penghargaan Nobel sebagai penyelamat dunia karena telah berkecimpung banyak dalam menagani PERUBAHAN IKLIM GLOBAL. Keduanya dipandang merupakan pejuang perdamaian dengan upayanya yang efektif untuk membangun perdamaian dengan menghindarkan dunia dari bencana lingkungan yang dapat menjadi sumber konflik amat besar dimasa mendatang. Pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi gelombang panjang matahari (infra merah atau gelombang panas) yang dipancarkan oleh bumi, sehingga tidak dapat lepas ke angkasa dan akibatnya suhu di atmospher bumi memanas (Gambar 1).


Gambar 1. Gas rumah kaca yang menyelimuti atmosfer bumi akan menyerap radiasi gelombang panjang yang memanaskan bumi (Sumber: UNEP/WMO, 2000).



Dengan berubahnya suhu bumi yang dapat dirasakan oleh seluruh makhluk di bumi ini, maka kejadian tersebut dinamakan sebagai “pemanasan global”. Penjebak gelombang panas tersebut adalah lapisan gas yang berperan seperti dinding kaca atau ‘selimut tebal’, antara lain adalah uap air, gas asam arang atau karbon dioksida (CO2), gas methana (CH4), gas tertawa atau dinitrogen oksida (N2O), perfluorokarbon (PFC), hidrofluorokarbon (HFC) dan sulfurheksfluorida (SF6). Uap air (H2O) sebenarnya juga merupakan GRK yang penting dan pengaruhnya dapat segera dirasakan. Misalnya pada saat menjelang hujan berawan tebal dan kelembaban tinggi, udara terasa panas karena radiasi gelombang-panjang tertahan uap air atau mendung yang menggantung di atmosfer. Namun H2O tidak diperhitungkan sebagai GRK yang efektif dan tidak dipergunakan dalam prediksi perubahan iklim karena keberadaan atau masa hidup (life time) H2O sangat singkat (9.2 hari). Tiga jenis gas yang paling sering disebut sebagai GRK utama adalah CO2, CH4 dan N2O, karena akhir-akhir ini konsentrasinya di atmospher terus meningkat hingga dua kali lipat (IPCC, 2007). Ketiga jenis GRK tersebut mempunyai masa hidup cukup panjang Tabel 1. Dari ketiga GRK tersebut gas CO2 merupakan gas yang paling pesat laju peningkatnya dan masa hidupnya paling panjang, walaupun kemampuan radiasinya lebih rendah dari pada ke dua gas lainnya.


Kejadian pemanasan bumi tersebut sama dengan kondisi di dalam rumah kaca yang memungkinkan sinar matahari untuk masuk tetapi energi panas yang keluar sangat sedikit, sehingga suhu di dalam rumah kaca sangat tinggi. Dengan demikian pemanasan global yang terjadi disebut juga Efek Rumah Kaca dan gas yang menimbulkannya disebut Gas Rumah Kaca (GRK) dan untuk memudahkan perhitungan dalam penurunan emisi, semua gas dinyatakan dalam ekivalen terhadap CO2.



Gambar 2. Peningkatan konsentrasi 3 gas utama penyusun GRK CO2, CH4, N2O di atmosfer (IPCC, 2007)



PENYEBAB PEMANASAN GLOBAL


Pada tahun 2007 Indonesia didaulat sebagai salah satu Negara penghasil emisi GRK terbesar di dunia, terutama berasal dari kegiatan alih guna lahan hutan dan pengeringan lahan gambut menjadi lahan pertanian (Tabel 2). Negara emitor GRK terbesar adalah USA dan China, jumlah GRK yang diemisikan dua kali lipat lebih besar dari emisi asal Indonesia. Bedanya, emisi GRK dari kedua negara industri tersebut berasal dari penggunaan bahan bakar fossil dan industri.


Agus dan Van Noordwijk (2007) melaporkan bahwa pembakaran hutan alami pada lahan gambut menyebabkan pelepasan CO2 sebanyak 734 ton ha-1 yang berasal dari C yang tersimpan di vegetasi sebasar 200 ton ha-1. Tetapi jumlah tersebut mungkin masih lebih rendah dari jumlah CO2 yang diemisikan sebenarnya, karena selama pembakaran hutan lapisan atas gambut juga terbakar dan melepaskan CO2. Seandainya gambut yang terbakar setebal 10 cm, maka akan terjadi penambahan emisi CO2 sebesar 220 ton ha-1 karena tanah gambut mengandung C sekitar 6 ton ha-1 cm-1. Setelah pembakaran hutan, biasanya lahan dialih-fungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit, HTI atau tanaman semusim. Cara pengelolaan paska pembakaran (terutama berhubungan dengan pengeringan dan pengolahan tanah) sangat mempengaruhi besarnya emisi CO2 berikutnya. Pembuatan saluran drainase sedalam 80 cm pada kebun sawit, diestimasi akan mengemisikan CO2 sebanyak 73 ton ha-1 th-1. Jadi berarti dalam satu siklus tanam sawit (25 tahun) akan mengemisikan CO2 sebanyak 1820 ton ha-1. Suatu jumlah pelepasan yang sangat besar, yang mungkin terlewatkan dalam penghitungan neraca C di skala global saat ini.



DAMPAK PEMANASAN GLOBAL DAN SIAPA YANG MENDERITA?


Dampak dari pemanasan global terhadap lingkungan dan kehidupan, dapat dibedakan menurut tingkat kenaikan suhu dan rentang waktu (Gambar3). Bila suhu bumi meningkat hingga 3oC, diramalkan sebagian belahan bumi akan tenggelam, karena meningkatnya muka air laut akibat melelehnya es di daerah kutub, misalnya Bangladesh akan tenggelam. Bencana tzunami akan terjadi lagi di beberapa tempat, kekeringan dan berkurangnya beberapa mata air, kelaparan dimana-mana. Akibatnya banyak penduduk dari daerah-daerah yang terkena bencana akan mengungsi ke tempat lain. Peningkatan jumlah pengungsi di suatu tempat akan berdampak terhadap stabilitas sosial dan ekonomi, kejadian tersebut sudah sering kita dengar terjadi di Indonesia paska bencana.


(http://meylya.files.wordpress.com/2008/10/pemanasan.jpg)


Perubahan yang lain adalah meningkatnya intensitas kejadian cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Perubahanperubahan tersebut akan berpengaruh terhadap hasil pertanian, berkurangnya salju di puncak gunung, hilangnya gletser dan punahnya berbagai jenis flora dan fauna. Akibat perubahan global tersebut akan mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam perencanaan dan pengembangan wilayah, pengembangan pendidikan dan sebagainya. Guna menghindari terjadinya bencana besar yang memakan banyak korban, para ilmuan telah bekerja keras membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global.


Gambar 3. Skema dampak pemanasan global terhadap kehidupan dan lingkungan di dunia dan konsekuensinya terhadap stabilitas pangan, sosial dan budaya akibat banyaknya bencana yang diramalkan akan terjadi pada seratus tahun mendatang.

(http://learningfundamentals.com.au/wpcontent/uploads/combating-global-warming-map.jpg)



1. Tinggi muka laut


Peningkatan suhu atmosfer akan diikuti oleh peningkatan suhu di permukaan air laut, sehingga volume air laut meningkat maka tinggi permukaan air laut juga akan meningkat. Pemanasan atmosfer akan mencairkan es di daerah kutub terutama di sekitar pulau Greenland (di sebelah utara Kanada), sehingga akan meningkatkan volume air laut. Kejadian tersebut menyebabkan tinggi muka air laut di seluruh dunia meningkat antara 10 - 25 cm selama abad ke-20. Para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut akan terjadi pada abad ke-21 sekitar 9 - 88 cm (Gambar 4).



Gambar 4. Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global)



Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 % daerah Belanda, 17.5% daerah Bangladesh dan banyak pulau-pulau. Dengan meningkatnya permukaan air laut, peluang terjadi erosi tebing, pantai, dan bukit pasir juga akan meningkat. Bila tinggi lautan mencapai muara sungai, maka banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Bahkan dengan sedikit peningkatan tinggi muka laut sudah cukup mempengaruhi ekosistem pantai, dan menenggelamkan sebagian dari rawa-rawa pantai. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi penduduk dari daerah pantai.



2. Mencairnya es di kutub utara


Para ilmuan juga memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil, akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara sehingga populasi flora dan fauna semakin terbatas. Pada daerah-daerah pegunungan subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair dan musim tanam akan lebih panjang di beberapa area.



3. Jumlah curah hujan


Meningkatnya suhu di atmosfer akan berpengaruh terhadap kelembaban udara. Pada daerah-daerah beriklim hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan, sehingga akan meningkatkan curah hujan, rata-rata, sekitar 1 % untuk setiap 1oC F pemanasan. Dalam seratus tahun terakhir ini curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 %. Intensitas curah hujan telah meningkat akhir-akhir ini bila dibandingkan dengan waktu 1950 -1999. Para ahli telah memperkirakan perubahan curah hujan yang akan terjadi di Asia Tenggara (Lal et al., 2001 dalam Santoso dan Forner, 2006) bahwa presipitasi di Asia Tenggara akan meningkat 3.6% di tahun 2020-an dan 7.1% di tahun 2050, serta 11.3% di tahun 2080-an.


Dengan menggunakan model simulasi (IS92a pakai dan tanpa aerosol) diperkirakan iklim di Asia Tenggara akan menjadi lebih panas dan lebih basah dari pada kondisi yang kita miliki saat ini (Gambar 5). Dengan berpeluang besar untuk terjadi banjir dan longsor di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Kajian dampak (impact study) perubahan musim terhadap frekuensi kejadian kondisi ekstrim per tahunnya mungkin lebih penting dari pada meningkatnya jumlah curah hujan yang terjadi. Pada Gambar 6 dapat dilihat hasil prediksi 2 model (HadCM3 dan GISS_ER) akan perubahan musim di Indonesia. Prediksi variabilitas iklim dan ramalan musim tersebut akan sangat bermanfaat di masa yang akan datang untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat akan datangnya bencana, agar tingkat kerugian dan jumlah korban bisa diminimalkan.


Masyarakat seluruh dunia akan terkena dampak perubahan iklim. Tetapi negara dan masyarakat miskinlah yang paling rawan terkena dampaknya. Negara kepulauan kecil dan negara berkembang yang merupakan penyumbang terkecil pada emisi GRK, justru akan mengalami dampak paling besar dan paling tidak siap menghadapi perubahan iklim. Sebagai contoh, negara-negara pulau kecil di Pasifik hanya menyumbangkan 0.06% dari total emisi seluruh dunia, tetapi akan menjadi korban paling pertama akibat naiknya permukaan air laut. Demikian pula, masyarakat miskin di pesisir yang akan menjadi korban terlebih dahulu.



Gambar 6. Perbedaan hasil prediksi perubahan pola sebaran hujan menurut model HadCM3 dan GISS_ER, namun keduanya memprediksi akan terjadi kondisi ektrim basah dimusim penghujan dan ekstrim kering di musim kemarau (Dikutip dari: Santoso dan Forner, 2006)



Indonesia, sebagai salah satu negara tropis akan paling menderita terkena dampak pemanasan global. Dampak pemanasan global di lapangan ditandai dengan munculnya bencana alam terutama berkaitan dengan adanya penurunan sumber daya alam (SDA) baik ditingkat plot, lansekap/nasional dan global, yang penanganannya memerlukan pemahaman yang mendalam. Penurunan SDA yang umum dihadapi di tingkat nasional umumnya berhubungan dengan (1) Air baik kuantitas maupun kualitasnya, (2) Biodiversitas fauna dan flora, (3) Keindahan lansekap, dan (4) Kualitas udara.


Dampak-dampak tersebut di atas memang sering dikatakan sebagai ”diperkirakan”, tetapi perubahan pola cuaca, intensitas hujan dan musim kering, serta peningkatan bencana sudah mulai kita rasakan sekarang, tidak perlu menunggu 2030 atau 2050. Kalau peningkatan suhu rata-rata bumi tidak dibatasi pada 2oC maka dampaknya akan sulit dikelola manusia maupun alam! Guna meredam penderitaan masyarakat yang berkepanjangan di masa yang akan datang, maka kebijakan pengelolaan lahan baik kehutanan maupun pertanian harus bersifat ADAPTASI terhadap iklim baru yang sinergi dengan upaya MITIGASI terhadap perubahan iklim global. Kegiatan adaptasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk menekan dampak perubahan iklim baik secara antisipatif maupun reaktif. Sedangkan kegiatan mitigasi dilakukan sebagai salah satu upaya menurunkan efek gas rumah kaca sehingga dapat memperlambat laju pemanasan global. Bahasan dalam buku ini difokuskan kepada upaya INAFE (The Indonesian Network for Agroforestry Education) dalam mempersiapkan generasi mendatang untuk dapat beradaptasi dengan kondisi iklim global yang telah berubah, melalui perbaikan perbaikan strategi pendidikan Agroforestri di Perguruan Tinggi seluruh Indonesia.



DAFTAR PUSTAKA


Hairiah Kurniatun. Tanpa Tahun. PERUBAHAN IKLIM GLOBAL: Penyebab dan dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl Veteran, Malang 65145. Email: K.hairiah@cgiar.org atau Safods.unibraw@telkom.net.

Agus, F. and M. van Noordwijk. 2007. CO2 emissions depend on two letters. The Jakarta Post, November 15.

IPCC, 2001. Climate change 2001: Impacts, adaptation and vulnerability. Report of the working group II. Cambridge University Press, UK, p 967.

Murdiyarso D, Van Noordwijk M, Wasrin UR, Tomich TP, and AN Gillison. 2002. Environmental benefits and sustainable land-use options in the Jambi transect, Sumatra, Indonesia. Journal of Vegetation Science 13: 429-438.

Santoso H dan Forner C. 2007. Climate change projections for Indonesia. TroFCCz.

Tomich T P, Van Noordwijk M, Budidarsono S, Gillison A, kusumanto T, Murdiyarso D, Stolle F and Fagi A M. 1995 Alternatives to slash-and-burnin Indonesia. Summary Report and Synthesis of Phase II. ASB-Indonesia Report Nummer 8. Bogor, Indonesia.

Watson RT, Noble IR, Bollin B, Ravindranath NH, Verado DJ and Dokken DJ. 2000. Land Use, Land-Use Change and Forestry. A Special Report of the IPCC. Cambridge University Press, Cambridge, UK. 377pp.



Web site


http://www.wetlands.org

http://lwf.ncdc.noaa.gov/oa/climate/globalwarming.html

http://www.ghgonline.org/evidence.htm

http://www.ipcc.ch

http://www.columbia.edu/cu/cup